Masa Kecil Nabi Muhammad saw.

Inilah kisah tentang masa kecil Nabi Muhammad saw. setelah kelahiran beliau.

Bersama Ibu Susu

Dalam tradisi suku Quraisy, setiap bayi yang baru lahir akan disusui oleh wanita-wanita dari desa. Bayi itu akan tinggal di desa selama disusui. Udara di desa lebih bersih, lingkungan, bahasa, dan pergaulannya lebih terjaga. Di Makkah, para ibu susu dari Bani Sa’ad berdatangan dari desa untuk mencari bayi-bayi dari keluarga kaya. Tetapi tidak ada yang mau mengambil Muhammad saw, karena ia anak yatim dan miskin.

Seorang ibu bernama Halimah datang paling akhir. Tubuh kurusnya payah di atas keledai yang berjalan lambat tak bertenaga. Semalaman bayinya menangis karena air susu Halimah kering. Unta betina tua yang dibawanya pun tidak lagi bisa diperah susunya.

Tiba di Makkah, ia hanya mendapati bayi Muhammad saw. yang belum mendapatkan ibu susu. Hatinya diliputi gundah. Tidak membawa bayi untuk disusui artinya tidak mendapatkan uang. Membawa pulang bayi Muhammad saw. juga belum tentu ia mendapatkan uang yang cukup. Mungkin ia hanya akan mendapatkan beban saja dengan membawa bayi Muhammad saw., pikirnya. Dengan setengah hati, akhirnya ia mendatangi bayi Muhammad saw..

“Betapa tampannya anak ini ….” Muncul rasa sayang dan kasihan pada anak yatim itu. Meski sedikit merasa terpaksa mengambil bayi Muhammad saw., akhirnya Halimah membawa Bayi Muhammad ke desanya untuk disusui.

Ajaib! Saat bayi Muhammad saw. disusui Halimah, beliau dapat menyusu hingga kenyang. Begitu juga bayi halimah sendiri. Unta betina mereka pun penuh kantung susunya. Sejak malam itu keberkahan mengikuti keluarga Halimah. Mereka hidup berlimpah rezeki selama mengasuh Muhammad saw..

Bayi Muhammad saw. tinggal di tengah-tengah Bani Sa’ad hingga genap dua tahun. Di sanalah sebagian masa kecil Nabi Muhammad saw. dihabiskan. Ketika Muhammad saw. akan dikembalikan kepada Aminah, kota Makkah sedang diserang penyakit menular. Muhammad saw kecil pun dibawa lagi oleh Halimah ke desa dan tinggal di desa lagi  hingga berusia lima tahun.

Suatu ketika Muhammad saw kecil sedang bermain bersama teman-temannya. Tiba-tiba seorang lelaki datang. Ia memegang dan menelentangkan Muhammad saw.. Dibelahnya dada Muhammad saw. kecil, lalu mengeluarkan segumpal darah dari dada beliau. Gumpalan itu dicuci dengan air Zamzam, kemudian dimasukkan kembali.

Setelah itu lelaki itu pergi begitu saja. Anak-anak lain ketakutan, mereka mengira Muhammad saw. telah diculik dan dibunuh.

“Kamu baik-baik saja, Nak?” Halimah datang sambil berlari, memeluk Muhammad saw. penuh kekhawatiran dan ketakutan. Diperiksanya seluruh tubuh Muhammad saw.. Anehnya, tidak ada yang terluka. Nabi Muhammad saw. segar bugar. Wajah beliau malah makin berseri.

Ternyata lelaki itu adalah malaikat Jibril yang menyamar menjadi manusia. Ia datang untuk membersihkan hati Muhammad saw..

Yatim Piatu

“Nak, ayo kita ziarah ke makam ayahmu,” ajak Aminah. “Sekalian kita berkunjung ke keluarga di Madinah.” Aminah ingin mengenalkan anaknya kepada paman-pamannya. Saat itu Muhammad saw. berusia enam tahun. Ia sudah tinggal kembali bersama ibunya.

Dari Makkah ke Madinah, jarak yang ditempuh sekitar 500km. Nabi Muhammad saw. dan ibunya ditemani oleh Ummu Aiman, pembantu mereka.

Setelah berziarah dan tinggal di Madinah selama sebulan, mereka bersiap untuk pulang. Di tengah jalan, Aminah jatuh sakit. Kelelahan, ditambah kesedihannya mengingat Abdullah, membuat sakitnya tambah berat. Di Abwa, desa di antara Makkah dan Madinah, Aminah wafat. Masa kecil nabi Muhammad saw terasa pedih.

“Oh, Muhammad … Muhammad …. Betapa malangnya kamu,” Ummu Aiman memeluk Muhammad saw. kecil sambil terisak.

Di usianya yang baru enam tahun, Nabi Muhammad saw.  harus kehilangan kedua orangtua. Baru saja beliau meninggalkan makam ayahnya yang belum pernah dilihatnya, kini harus juga berpisah dengan ibunda tercinta. Masa Kacil Nabi Muhammad saw penuh ujian dan cobaan. Ini adalah didikan Allah SWT. agar Nabi Muhammad saw. menjadi pribadi yg mandiri dan dewasa.

Kembali Kepada Kakek yang Penyayang

Muhammad saw. kembali ke Makkah bersama Ummu Aiman. Mereka tiba di rumah Abdul Muthalib, kakek Muhammad saw.. Nabi masih merasa sedih dan kehilangan.

“Kemarilah, cucuku!” Abdul Muthalib memeluk Muhammad saw. erat. Betapa ibanya sang kakek pada cucunya. Tiada berayah, tiada beribu, betapa sedihnya.

Selama dua tahun, Muhammad saw. selalu dibawa oleh kakeknya ke mana pun pergi. Saat Abdul Muthalib berkumpul  dengan para pembesar Quraisy, Muhammad selalu duduk di samping kakeknya itu.

“Untuk apa selendang itu kau bawa terus?” Seorang pembesar Quraisy bertanya kepada Abdul Muthalib.

“Ini tempat duduk istimewa cucuku!” Abdul Muthalib tertawa sambil menggelar selendangnya. Para pembesar Quraisy saling berpandangan. Muhammad saw. pun duduk di atas selendang itu. “Tak ada seorang pun yang boleh duduk di atasnya kecuali cucuku ini,” tambah Abdul Muthalib. “Cucuku ini punya sesuatu yang luar biasa. Kalian lihat saja nanti,” ujar sang kakek.

Sayangnya, ketika Muhammad saw mulai merasakan kasih sayang yang tak bisa ia dapatkan dari ayah ibunya, beliau pun harus merasakan kehilangan untuk ketiga kalinya. Abdul Muthalib pun meninggal dunia saat Muhammad saw berusia 8 tahun. Ini adalah ujian yang Allah berikan untuk mendidik Muhammad saw. agar lebih mandiri dan kuat.

Sejak itu, Muhammad saw. berada dalam pengasuhan pamannya, Abu Thalib, sesuai wasiat sang kakek. Muhammad saw . ingin membalas budi. Beliau tahu Abu Thalib bekerja keras untuk menghidupi kesepuluh anaknya, termasuk dirinya. Beliau pun menawarkan diri untuk mambantu pamannya berdagang. Pamannya tidak setuju karena kasihan, beliau masih terlalu kecil untuk bekerja. Tapi Muhammad saw. tetap bekerja menjadi penggembala kambing dengan imbalan beberapa dinar.

Itulah masa kecil Nabi Muhammad saw. setelah beliau lahir.

Kelahiran Nabi Muhammad saw

Kelahiran Nabi Muhammad saw sebagai nabi dan rasul terakhir sudah dinanti umat manusia. Sebelum Nabi Muhammad saw lahir, dunia dalam kerusakan. Manusia yang seharusnya menjadi pemimpin bumi menjadi lalai dan zhalim.

Allah Subhanahu wa ta’ala telah menciptakan alam semesta beserta isinya. Bumi, langit, planet-planet, semua makhluk, adalah bagian kecil dari ciptaan-Nya. Manusia pertama di dunia, Nabi Adam dan Hawa ditempatkan di bumi untuk menjadi pemimpin yang mengurus bumi ini. Nabi Adam dan Hawa memiliki anak cucu yang beranak-pinak hingga ribuan dan jutaan manusia.

Sejak Nabi Adam hidup di bumi, Allah Subhanahu wa ta’ala mengutus para rasul dan nabi untuk membimbing manusia agar taat kepada-Nya. Nabi adalah manusia biasa yang ditugaskan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala untuk menjaga manusia agar tetap menyembah-Nya. Sedangkan rasul ditugaskan untuk mengajak orang kafir untuk beriman kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Setan selalu menggoda manusia untuk melupakan Allah Subhanahu wa ta’ala. Ada manusia yang menyembah matahari, api, atau patung-patung. Ada juga yang manusia yang membunuh manusia lain. Orang yang kaya menindas orang yang miskin. Kejahatan terjadi di mana-mana.

Tiba masanya datang utusan Allah Subhanahu wa ta’ala yang terakhir. Ia datang untuk menyempurnakan tugas semua nabi dan rasul di seluruh dunia. Siapakah dia?

Sementara itu, di Jazirah Arabia yang tandus, tinggallah seorang bernama Hasyim. Dia adalah  anak dari Abdu Manaf. Jika ditelusuri terus nenek moyang Hasyim, ia adalah keturunan Fihr, cucu Nabi Ismail, putra dari Nabi Ibrahim. Hasyim adalah orang kaya yang terkenal jujur. Ia ditugaskan untuk memberi makan dan minum orang-orang yang datang berziarah ke Ka’bah di kota Makkah.

Hasyim punya empat orang anak laki-laki dan lima anak perempuan. Semua keturunan Hasyim disebut Bani Hasyim, artinya anak-cucu Hasyim. Keturunan Bani Hasyim tidaklah terlalu kaya, tetapi memiliki kewibawaan yang tinggi di antara suku-suku Quraisy.

Salah seorang anak Hasyim bernama Abdul Muthalib. Dialah yang menggali sumur Zamzam sebagai sumber minuman bagi suku Quraisy. Anak Abdul Muthalib ada enam belas anak. Satu anak Abdul Muthalib yang paling tampan, baik hati, dan penyayang bernama Abdullah.

Ketika anak Abdul Muthalib yang bernama Abdullah ini dewasa, ia dinikahkan dengan Aminah. Aminah adalah anak dari Wahab, anak Abdu Manaf. Abdu Manaf adalah pemimpin Bani Zuhrah. Keluarga Aminah adalah keluarga mulia yang terhormat dan terpandang.

Setelah Abdullah dan Aminah menikah di kota Makkah, Abdullah pergi ke Suriah untuk berdagang. Sayangnya, ketika sampai di perjalanan pulang melewati Madinah untuk menengok pamannya, Abdullah wafat. Aminah yang telah mengandung anak Abdullah sedih sekali. Anaknya yang sedang dikandungnya tidak akan pernah melihat ayahnya. Janin Nabi Muhammad saw sudah yatim sebelum lahir.

Kelahiran Nabi Muhammad saw. ditandai dengan peristiwa-peristiwa besar.

“Kudengar api sembahan orang Majusi padam!” Seseorang berkata.

“Sepuluh balkon istana Raja Kisra runtuh!” Terdengar kabar lagi dari yang lain.

“Gereja-gereja di sekita Buhairah amblas ke dalam tanah!” Orang-orang sibuk membicarakan peristiwa-peristiwa besar yang terjadi dalam waktu yang bersamaan. Saat itu hari Senin, 12 Rabi’ul Awal, tahun 570M. Inilah hari kelahiran Nabi Muhammad saw

“Aku tidak mengerti …. Setelah bayiku lahir, ada cahaya memancar dari tempatnya lahir. Sinarnya menerangi istana-istana di Syam,” ujar Aminah. “Apa yang terjadi?” Wajah Aminah tampak bingung.

Tapi pancaran bahagia tak dapat ditutup dari wajahnya, meski ia masih tampak letih usai melahirkan anaknya. Ada rasa sedih saat mengingat Abdullah, ayah bayinya.

Abdul Muthalib termenung. Beberapa peristiwa aneh yang terjadi menjadi tanda kelahiran Nabi Muhammad saw, cucunya. Ia yakin cucunya seorang yang istimewa. Setengah berlari, Abdul Muthalib membawa Muhammad saw. ke dalam Ka’bah. Ia memanjatkan syukur dan doa kepada Allah SWT.

“Cucuku yang tampan …,” Abdul Muthalib menimang bayi itu. Ia tampak senang sekali. “Namamu Muhammad, artinya yang terpuji,” ujarnya. Orang-orang terheran-heran dengan nama yang belum pernah dikenal sama sekali di antara orang Arab.

“Kenapa tidak diberi nama seperti nama nenek moyang kita?” tanya seorang pembesar Quraisy.

“Aku ingin dia dipuji penduduk bumi dan langit,” ujar Abdul Muthalib sambil tersenyum.

Lima puluh hari kemudian setelah kelahiran Nabi Muhammad saw., terjadi peristiwa besar di Makkah. Raja Abrahah datang dengan pasukan bergajahnya untuk menghancurkan Ka’bah. Raja Abrahah tidak suka orang-orang datang ke Ka’bah. Ia juga merampas dua ratus unta milik orang-orang Arab.

Dengan berani, Abdul Muthalib menghadapi Abrahah. “Kembalikan untaku! Unta-unta itu milikku, sedang Ka’bah adalah milik Allah. Dia yang akan menjaganya.”

Benar saja, pasukan bergajah dihancurkan Allah SWT dengan mengutus burung-burung Ababil yang melempari mereka dengan batu berapi. Pasukan bergajah Abrahah pun hancur dengan tubuh penuh lubang seperti daun yang dimakan ulat.

Kelahiran Nabi Muhammad saw. adalah berkah bagi bumi.