Kemping di Pulau Pari

kemping di pulau pari

Saya dan keluarga bergabung dalam trip ini komunitas BEKAP Adventure dalam Pesta Pantai Pulai Pari. BEKAP Adventure adalah sebuah komunitas pecinta alam yang basecamp-nya berlokasi di Bekasi.

Saya sendiri tidak pernah menyengajakan diri untuk merayakan Tahun Baru. Malam tahun baru biasanya saya tidur di rumah, atau paling banter barbeku di Pak RT tetangga sebelah. Apalagi kalau bukan jadi tukang kipas ikan bakar. Yah, lumayan bisa menonton kembang api sambil miris membayangkan jika uang yang digunakan untuk membeli kembang api dipakai untuk beli beras dan dibagi-bagi. Tapi daripada menyumpah-nyumpah dan merusak suasana, lebih baik saya menikmati keindahan kembang api yang berpendar warna-warni, kontras di atas langit yang hitam.

Pagi hari (30/12/12), ketika sampai di Muara Angke, waktu sudah menunjukkan pukul 8 lewat. Saya bersama suami dan dua anak saya yang berusia 8 dan 3 tahun, bersama rombongan dari BEKAP menunggu kapal pukul 10. Kapal yang berangkat dari sana biasanya ada di pukul 7, 10, dan pukul 3 sore. Jika kita bisa sampai Muara Angke sebelum pukul tujuh, itu waktu yang paling enak sebetulnya, karena matahari masih lumayan lembut, tidak terlalu menyengat kulit. Pukul 9, meski masih terbilang pagi, panasnya menyiksa juga. Jika kita harus menunggu kedatangan kapal, sebaiknya berdiam di sekitar pom bensin. Di situ ada ATM, toilet, dan mini market kecil. Daerah muara di dekat kapal sangat tidak nyaman, banjir rob, bau, dan tidak ada tempat berteduh yang lumayan. Cuma ada warung-warung kecil yang kumuh di sepanjang muara. Pemandangannya juga tidak enak, air lautnya hitam, hiruk-pikuk orang naik turun kapal dan berseliweran. Kalau ingin mengamati aktivitas penduduk sekitar situ sambil ambil foto bolehlah tinggal beberapa menit, setelah itu lebih baik tunggu di pom bensin sampai kapal datang.

13676439851401825549

Perjalanan dari Muara Angke menuju Pulai Pari ditempuh dalam waktu kurang lebih dua jam dengan perahu kayu, atau kalau ingin lebih cepat satu jam silakan bertolak dengan menggunakan perahu cepat dari Marina, Ancol. Tarifnya tentu lebih mahal dari kapal kayu Muara Angke.

Meninggalkan Teluk Jakarta, saya mulai melihat gugusan pulau dengan latar belakang langit dan air yang lebih biru. Pulau yang terlihat menonjol pertama kali adalah Pulau Onrust. Bangunan benteng bersejarah peninggalan Belanda tampak jelas dari kejauhan. Satu jam tiga puluh menit kemudian dermaga Pulau Pari sudah terlihat dari kejauhan. Alhamdulillah ternyata kali ini waktu tempuhnya lebih cepat. Ngebut barangkali ya.

136764550256274359
13676431631860298365
Dermaga Pulau Pari

Pari adalah salah satu pulau di Kelurahan Pulau Pari, Kecamatan Kepulauan Seribu. Pecahan pulau yang eksotis ini berada di Teluk Jakarta dan masih masuk provinsi DKI Jakarta. Bayangkan, di tengah keruwetan Jakarta ternyata ada surga tersembunyi. Kepulauan Seribu terdiri dari 110 pulau yang membentang sepanjang 45km di utara Laut Jawa. Tiga puluh enam pulau berpenghuni, 11 pulau merupakan resor, 2 pulau tempat situs bersejarah, 23 dimiliki oleh perseorangan, sisanya tidak berpenghuni.

Satu hal istimewa dari Pulau Pari yang membedakannya dengan pulau-pulau lain di Kepulauan Seribu adalah ketenangan dan kenyamanannya. Jumlah penduduk dan jumlah rumah di Pulau Pari memang tidak terlalu banyak. Pulau ini hanya bisa menampung kurang lebih 200 orang wisatawan. Keindahan bawah laut yang terjaga dengan baik adalah ciri khas Pulau Pari. Pantai Pasir Perawan-nya adalah pusat keindahan pulau yang masih dalam wilayah DKI Jakarta ini. Rasanya luar biasa sekali, masih ada alam yang seperti ini di Jakarta.

Dahulu, sebelum tahun 1900-an, pulau ini tak berpenghuni, tak bernama, dan menjadi tempat pelarian orang-orang asli Mauk, Tangerang-Banten, yang menolak kerja paksa yang diberlakukan oleh kolonial Belanda. Pada mulanya hanya satu keluarga yang datang. Lama kelamaan mereka memilih untuk menetap di pulau yang tenang itu. Setelah mendengar bahwa pulau di pulau itu mereka bisa hidup dengan damai dan tenang, bertambah banyaklah keluarga yang menetap di sana. Karena di perairan Pulai Pari banyak ditermukan ikan pari, maka pulau ini disebut Pulau Pari. Sekitar tahun 1943, saat para penduduk awal pulau ini menikmati ketenangan mereka, tiba-tiba datang tentara Jepang. Mereka pun dipaksa untuk bekerja sebagai nelayan tanpa dibayar. Untungnya tak lama kemudian kemerdekaan Indonesia diproklamirkan, sehingga para tentara Jepang pun akhirnya meninggalkan pulau itu.

Kakak Kiya dan Adik Caca menuju camping ground. Asyiik!

13676450651899584571

13676434061181599142

Saya dan teman-teman segera bersiap membangun tenda di lapangan berumput luas di dekat Pantai Pasir Perawan, di sebelah timur Pulau Pari. Kami tidak akan menginap di homestay seperti biasanya pengunjung yang datang ke sana, melainkan tidur di tenda. Pengalaman tidur di tepi pantai tentu tidak boleh dilewatkan. Asyiknya jangan ditanya! Saya dan suami saja sudah macam anak kecil saat main air, jangan tanya anak-anak. Liburan ke pulau sambil kemping dengan anak-anak itu kombinasi yang luar biasa sekali. Mereka belajar hidup dalam keterbatasan, belajar mandiri, dan tentu saja menikmati suasana yang sangat jauh berbeda sekali dengan keseharian mereka. Sangat hemat dan efektif, karena jarak tempuh hanya sebentar, sementara pemandangan dan suasananya seratus delapan puluh derajat dengan suasana di kota besar tempat kami tinggal.

Meski karena kemping itulah yang paling susah adalah membuat telepon genggam saya tetap menyala. Untuk mengisi baterai, saya harus nongkrong di warung-warung pinggir pantai dan meminta energi listrik kepada mereka. Atau mendekam di masjid setelah shalat.  Minum kopi sambil mengobrol dengan penduduk asli merupakan pengalaman yang menarik. Mereka umumnya ramah dan senang mengobrol. Sesekali saya bercanda dan berfoto bersama anak-anak Pulau Pari. Kulit anak-anak Pulau Pari yang menghitam membuat gigi mereka terlihat putih saat tergelak. Saya sempat bertanya kepada ibu pemilik warung tentang pengelolaan sampah di pulau ini. Ternyata di ujung Pantai Pasir Perawan ada tempat pembuangan sampah. Secara berkala pasir digali dan sampah dipendam di dalamnya. Sayangnya sampah botol dan kemasan plastik masih banyak terlihat di sekitar warung.

1367644295835458630
Pantai Pasir Perawan
13676448501676792330
Anak saya bersama anak-anak Pulau Pari

Menurut penduduk setempat, istilah Pantai Perawan diberikan karena pada awalnya sangat sulit untuk membuka rute menuju pantai itu. Pepohonannya sangat tinggi dan tajam batang kayunya. Melihat air pantainya yang bening berwarna toska muda dan pasir yang putih dan halus, tak berlebihan jika pantai itu disebut Pantai Pasir Perawan. Bila kita berdiri memandang laut dari bibir pantai, kita akan melihat beberapa pulau kecil yang masuk dalam Kelurahan Pulau Pari, seperti Pulau Tikus, Tengah, Burung, Biawak dan Kongsi.

1367645361275385370
Pulau-pulau kecil di sekitar Pantai Pasir Perawan

Saat matahari terbit adalah waktu yang paling tepat untuk berjalan santai di Pantai pasir Perawan. Matahari akan datang dari arah laut, karena itu pemandangannya akan menjadi sangat luar biasa menakjubkan. Langit pagi yang kemerahan bercampur biru dan ungu tampak indah dipadu hijau toskanya air pantai. Saya melihat beberapa penduduk asli menyelam di perairan dangkal di sekitar pulau-pulau kecil yang tampak dari tepi pantai. Rupanya mereka sedang mencari kempa, sejenis kerang besar yang berduri-duri.

Saya menyusuri pantainya yang berpasir lembut sambil menikmati tamparan angin dari arah laut. Jangan bandingkan kebersihan udaranya dengan di pusat kota Jakarta, itu sama saja seperti membandingkan Jakarta dengan New York! Jauh bener! Udara di Pulau Pari sangat bersih, jauh dari polusi. Karena di pulau ini tidak ada mobil dan kendaraan umum bermotor. Mungkin sesekali melintas satu dua sepeda motor dengan kereta kecil di belakangnya untuk mengangkat barang, tetapi itu jarang dan hanya di saat sedang ramai wisatawan. Pagi hari di Pantai Pasir Perawan saya jamin benar-benar bersih tak terbandingkan. Bagi pekerja yang setiap hari berjibaku dengan polusi di jalanan kota Jakarta, perjalanan ke Pulau Pari adalah kenikmatan tersendiri. Saya sempatkan diri untuk duduk di kursi-kursi kayu yang ada di tepi pantai sambil memandangi pantai itu dari ujung ke ujung, mendengarkan suara angin yang datang diam-diam. Keheningan pagi menyambut datangnya matahari terasa begitu agung dan indah.

1367645135486966326
bersepeda di Bukit Matahari

Jika matahari mulai tenggelam, tempat yang tepat untuk mengucapkan selamat tidur kepada matahari adalah di Bukit Matahari di selatan pulau, dekat dengan dermaga. Di sana berjejer pepohonan yang rindang dan tinggi. Biasanya pengunjung bersepeda di sekitar situ. Sepeda memang menjadi alat yang banyak digunakan oleh pengunjung. Rumah-rumah penginapan biasanya menyediakan paket khusus dengan fasilitas antara lain sepeda. Tentu enak sekali mengelilingi pulai dengan sepeda. Jalan-jalan di antara perumahan di sana hanya muat untuk dua jalur sepeda. Meski udara dan matahari lebih terasa panas, tetapi karena pohon-pohon besar tidak ditebangi, berjalan kaki pun tetap nyaman. Jika ingin main di pantai, bisa juga menyewa kano di Pantai Pasir Perawan.Sambil mendayung perahu ramping itu, kita seperti disuguhkan parade hiburan alam spesial dihidangkan oleh Tuhan langsung di sekeliling pantai. Memandangi horizon yang tak bertepi, lisan ini tak henti mengucapkan tahmid dan tasbih.

13676445382034100123
camping ground kami di malam hari
1367644995702356796
Tepat tengah malam tahun baru 2013 di camping ground kami

Malam hari, jangan lupa barbeque di pinggir pantai. Suasana tenang dan obrolan santai di pantai bisa mengakrabkan siapa pun yang ada di sana. Warung-warung di pinggi pantai masih tetap buka jika pengunjung masih ramai. Pesanlah segelas kopi jahe untuk mengusir dingin malam. Nikmatnya tak terkatakan! Sayangnya hari kedua ini tidak terjadi lagi karena hujan deras turun. Kami terpaksa mendekam di tenda. Asyik juga!

Pukul sepuluh keesokan harinya, saya dan teman-teman sudah berada di atas kapal menuju selatan Pulau Pari. Rompi pelampung sudah terpasang kuat di badan. Google dan pipa snorkle pun sudah bertengger di kepala. Kaki katak pun mulai dipasang saat antri di pintu kapal. Dan … byur! Sedetik kemudian saya sudah berada dua meter di atas terumbu karang dan mulai bernapas dari mulut. Berenang di laut lebih melelahkan, karena kita dihempas arus dan angin laut. Jika air laut masuk ke tenggorokan pun rasanya sakit, tidak mengenakkan.

1367644601512900401
Si Ayah dan anak-anak siap terjun ke air
13676446762132455309
bertebaran snorkling
1367646591471567348
honeymoon backpacking!

Lepas snorkling, kami tiba di dermaga dengan perut lapar. Di sekitar dermaga banyak penjual makanan, jangan takut kelaparan meski tidak membawa penganan. Di dekat Bukit Matahari penduduk sekitar menyewakan jet ski, banana boat, dan sofa boat (ini karangan saya saja yang tidak tahu nama perahunya). Saya tidak mau melewatkan kesempatan untuk mencoba sensasi naik perahu yang ditarik dengan kecepatan tinggi itu. Awalnya sempat meremehkan, tapi setelah terbanting-banting dan melayang di atas perahu karet itu, saya minta ampun deh karena sudah sombong.

Untuk aktivitas shalat dan toilet, terpaksa saya pasrah menjadi orang “jalanan” untuk tiga hari itu dengan menumpang di satu-satunya mushala di selatan pulau. Saya berkesempatan berkenalan denganPak Mawi, petani rumput laut yang juga penjaga mushala. Pak Mawi ini tipe seorang pelaut yang sering berpergian ke mana-mana hingga ke laut Sumatra. Ia sudah tinggal di pulau itu sejak bujangan hingga kini cucu-cucunya sudah dewasa. Sehari-hari Pak Mawi berkebun rumput laut, beternak kima, kempa, dan mencari mutiara. Kempa adalah sejenis kerang yang agak besar dan bertanduk-tanduk. Saya membeli satu kilo rumput laut kering darinya hanya seharga 20 ribu dan sebutir mutiara putih seharga 50 ribu sebagai kenang-kenangan. Dia sebetulnya ingin memberi saja, tetapi saya bersikeras untuk membayar. Pak Mawi juga membawakan kami 2 ekor kempa.

Berjalan sedikit ke arah sebelah barat pulau, kita dapat menjumpai bangunan LIPI yang menjadi pusat penelitan sains di pulau itu. Ketika masa Gubernur Ali Sadikin, tempat itu menjadi pusat pengembangan perkebunan rumput laut yang berasal dari Bali ebagai bahan komoditas baru selain ikan. Keberadaan LIPI inilah yang membuat Pulau Pari lebih terjaga dari pulau-pulau lainnya di Kepulauan Seribu.

Tahun ini juga saya pasti akan menjadwalkan untuk kemping lagi di Pantai Pasir Perawan, karena perjalanan awal tahun itu kurang memuaskan karena terganggu dengan hiruk-pikuk pengunjung yang membludak untuk menghabiskan malam tahun baru di pulau itu.

Kalau Anda punya waktu yang pendek untuk liburan tetapi ingin merasakan suasana yang sangat berbeda dengan di Jakarta, mungkin Pulau Pari harus jadi destinasi nomer satu. Banyak paket yang disediakan oleh homestay di Pulau Pari. Dengan hanya sekitar 350 ribu saja, kita bisa menikmati dua hari satu malam di Pulau Pari. Jangan lupa ajak minimal 10 teman, karena kalau kurang, harganya bisa naik lagi. Semakin banyak semakin murah biayanya. Kalau mau extend jadi tiga hari dua malam, biayanya ditambah lagi 100 ribu. Biasanya paket itu termasuk transpot dari Muara Angke, makan tiga kali, sewa sepeda, penginapan, perlengkapan snorkling, sewa perahu, dan guide. Murah meriah, kan?

13676447411926133508
Jangan lupa tanam bakau untuk anak cucu sebelum pulang!
13676454321919164033
Saya dapat hadiah dari BEKAP Adventure

Be the first to comment

Tambah info dan komentarmu di sini, ya!