Perempuan yang Menolak Untuk “Mati”

Siang itu panas. Tubuh ini ikut panas dan berkeringat. Saya gagal menyukai Parung karena macetnya yang luar biasa. Kepala agak pening karena beberapa hari belakangan kurang tidur. Rabu (29/10/13) itu adalah hari yang melelahkan buat saya.  Baru saja saya selesai memberikan workshop kepenulisan bertajuk Writing Your Story untuk 370 anak kelas 7 di Mts Negeri Parung. Menyenangkan sekali bertemu dengan wajah-wajah muda yang penuh potensi. Suara saya habis. Karena setiap saya mengisi pelatihan outdoor dan semi outdoor dengan peserta di atas 300 orang, suara menghilang dan napas terengah-engah di tiga per empat acara.

Sebuah sms masuk dari seorang sahabat baik saya. “Jangan lupa nanti malem. Jam 5 registrasi. Doain aku ya. Tips ngatasin groginya udah aku praktekin sama Mas Haviz. Makasih banget sudah menemani perjalananku sejauh ini.”

Di atas KRL menuju kantor, dada saya disesaki berbagai macam rasa. Semua peristiwa sejak pertama kenal penulis yang akhirnya menjadi sahabat saya itu terputar kembali. Kami bertemu karena pekerjaan. Saya editor dan dia penulis. Kami dipertemukan oleh penulis senior Pipiet Senja. Tapi kami membuang batasan bahwa kami hanya sekadar rekan kerja. Saya, Pipiet Senja, dan Elmy biasa berdiskusi dan berbagi rasa.

Gambar
Kiri-kanan: Saya, Pipiet Senja, Elmy, Haviz, sedang diskusi kepenulisan

Ketika awal penyusunan buku tentang dirinya yang ditulis oleh suami Elmy, kami mengalami masa-masa berat bersama. Terbitnya buku itu sempat membuat kami sama-sama tidak bisa tidur karena terkait kesalahan prosedur dengan sebuah lembaga. Saya beberapa kali bolak-balik menemui mereka di RS PMI bertepatan dengan jadwal cuci darah Elmy di hari Rabu atau Sabtu. Selain pertemuan yang membahas soal teknis penulisan, pemotretan, hingga urusan perizinan. Sejak itu sampai detik ini, dia dan suaminya menjadi inspirasi tanpa tepi bagi saya. Setiap kali ada keperluan apa pun di Bogor di hari Sabtu, saya sempatkan untuk bertemu dengannya di RS PMI. Di sanalah saya jumpai senyum lebarnya di atas kasur pasien di ruangan Hemodialisa (cuci darah). Seperti biasa, di atas kasurnya terserak berbagai barang dagangan. Perawat bolak-balik bertransaksi di ranjangnya. Elmy memang selalu membawa barang jualan saat cuci darah yang berdurasi lima jam itu. Dia sama sekali tidak seperti orang sakit. Duduk dan mengobrol dengan para perawat sementara pasien lainnya memilih memejamkan mata. Selain itu, rata-rata pasien ginjal menghitam kulitnya akibat cuci darah, tapi sahabat saya itu berkulit kuning segar.

Elmy Suzanna sudah menjalani 9 tahun cuci darah, dua kali dalam seminggu, karena ginjalnya sudah tidak lagi berfungsi. Dan seumur hidupnya ia harus menjalani perawatan cuci darah. Sembilan tahun yang lalu ia bertanya kepada Tuhan, mengapa ini terjadi? Mengapa pun akhirnya kedua orangtuanya bercerai? Ia sampai tidak berani bermimpi menjalani kehidupan normal seorang gadis. Hingga ia tiba pada satu titik bahwa kepasrahan adalah jawaban atas pertanyaannya selama ini. Sejak itu ia bertekad untuk menjadi penuntun bagi adik-adiknya. Ia tidak boleh kehilangan arah. Elmy aktif menjadi relawan di Indonesia Kidney Care Club, sebuah rumah bagi para pasien ginjal. Di tengah kondisinya yang sakit, ia tak pernah lelah membantu teman-temannya untuk berobat ke sana ke mari, menghibur mereka. Elmy adalah api dan air dalam satu tubuh. Mungkin karena itulah akhirnya Allah SWT memberinya hadiah yang amat manis: seorang suami. Ketika saya beberapa kali menemani mereka dalam talkshow buku mereka, semua orang bertanya dari apakah hati lelaki itu terbuat? Hingga nekad mempersunting seorang wanita yang memiliki penyakit berat dan kemungkinan besar tidak dapat memiliki keturunan. Tapi lelaki itu hanya menjawab bahwa istrinya mungkin sakit, tetapi istrinya memiliki lebih dari apa yang dimiliki wanita normal. Lelaki itu Haviz Deni, yang darinya saya belajar banyak hal tentang sederhananya kebahagiaan.

Gambar
Saya dan Elmy yang sedang melakukan hemodialisa (cuci darah)

Lamunan saya buyar ketika melihat plang besi di peron bertuliskan “Cawang”. Satu stasiun lagi saya harus turun. Pukul dua saya tiba di kantor. Sekitar satu setengah jam mengurus beberapa hal di kantor, saya dan empat teman kantor membelah macetnya Jakarta menuju sebuah studio di Metro TV. Saya, rekan redaksi, Manajer Marketing, dan Direktur Pustaka Al-Kautsar. Kami diundang untuk hadir. Malam ini Elmy dan suaminya, Haviz akan menjadi tamu Andy Noya di acara Kick Andy. Beberapa hari yang lalu kru Kick Andy menghubungi kantor kami dan memborong 550 eksemplar buku mereka untuk dibagikan saat taping acara dan melalui website Kick Andy.

Gambar
Buku yang ditulis Haviz dan Elmy, Titip Satu Cinta, terbitan Salsabila Pustaka Al-Kautsar Group

Di tengah padatnya lalu lintas, saya merenungi perjalanan hidup Elmy dan Haviz. Allahu akbar, Dia Yang Maha Besar dan Agung. Wa lillahil hamd, dan hanya bagi-Nyalah segala pujian. Rencana-Nya begitu indah.

Acara bertema Indah Pada Waktunya itu menghadirkan 3 narasumber. Pertama, Dias, seorang anak muda berusia 26 tahun yang baru menyelesaikan masternya di Glasgow. Kuliahnya diselesaikan dengan gemilang, dalam waktu lebih cepat dibandingkan mahasiswa pada umumnya, dengan predikat cum laude. Di usia 5 tahun dia divonis mengidap leukimia stadium lanjut. Berkat perjuangan Dias dan keluarganya, Dias selamat dari leukimia.

Kedua, Taufiq Effendi, seorang tunanetra yang tidak hanya berhasil keluar dari keterpurukannya pasca kebutaan yang ia alami di usia 15 tahun akibat kecelakaan, tapi ia juga menyabet berbagai beasiswa bergengsi di luar negeri. Bersama istri dan seorang anaknya, Taufiq kini tinggal di Sydney untuk menyelesaikan masternya. (Di akhir acara saya mencari kesempatan untuk bertemu dengan Mas Taufik. Dan akhirnya bertemulah dengannya di rumah mayanya di sininya.)

Ketiga, siapa lagi kalau bukan sahabat saya, Elmy Suzanna dan suaminya.

Acara berlangsung cukup panjang. Belum lagi re-take yang harus dilakukan karena Andy Noya berulang kali salah bicara. Saya melihat Andy Noya sebagai orang yang cerdas dan memiliki selera humor yang baik. Kami semua begitu terhibur dengan canda-canda ringan dan gayanya yang santai. Elmy yang biasa kelihatan grogi dalam setiap talkshow bersama saya, kali ini terlihat begitu rileks. Siang tadi ia memang mengirimkan pesan pendek kepada kami semua untuk mohon doa. Sampai di jejaring sosial pun saya sempat posting status untuk minta doa teman-teman saya. Karena saya beberapa kali cerita tentang Elmy di sana. Dan sepertinya memang banyak yang mendoakan, Doa itu pun tampaknya makbul.

“Usaha apa saja yang Anda lakukan untuk sembuh?”

“Meski kata dokter ginjal saya sudah rusak dan tidak mungkin sembuh, saya tetap berusaha. Saya tidak pernah berhenti memohon kesembuhan. Tapi satu hal ingin sekali saya lakukan tapi belum kesampaian: memohon kesembuhan di Baitullah.”

Saya tercenung detik itu. Ya Rabb, kerinduan kami sama, untuk sesuatu yang berbeda. Siapakah yang tidak ingin bersimpuh di Rumah-Nya? Siapakah yang tidak ingin mengadukan semua kelelahan itu di altar-Nya. Siapakah yang tidak menginginkan perjamuan suci dengan Tuhan-Nya?

Air mata saya jatuh ketika Andy Noya tiba-tiba berkata, “Keinginan Anda akan terwujud.”

Tiba-tiba seorang lelaki berwajah Arab perlente -yang saya yakin dia bukan cuma tukang antar papan- maju ke depan, memberikan sebuah papan bertuliskan Hadiah Umroh bersama ALISAN untuk dua orang. Beberapa penonton, termasuk saya, menyusut air yang tiba-tiba turun dari mata, memenuhi hidung. Allahu akbar, Dia Yang Maha Besar dan Agung. Wa lillahil hamd, dan hanya bagi-Nyalah segala pujian.

Di akhir acara, Andy Noya memberikan pertanyaan penutup yang pas sekali. “Apa Anda bahagia menikah dengan Elmy?” selidik Andy Noya.

Dengan lugasnya Haviz menjawab, “Mudah untuk berbahagia di samping wanita seperti Elmy.”

Ah, betapa saya harus belajar banyak dari Elmy. Betapa indahnya mendengar orang-orang di sekitar, apalagi orang yang paling kita cintai mengatakan hal seperti itu.

Saya menekuri langit-langit studio yang berkelipan lampu. Ya Rabb, saya merasa beruntung dapat bertemu dengan orang-orang luar biasa yang memberi energi untuk orang-orang di sekitarnya. Haru saya berkesempatan menjadi bagian dari hidup mereka. Malam itu betul-betul malam yang indah buat saya.

Gambar
Ki-ka: Saya, Elmy, dan Haviz setelah syuting Kick Andy

Be the first to comment

Tambah info dan komentarmu di sini, ya!