Tentang Dua Kehilangan

web Orang datang dan pergi silih berganti mengisi hari-harimu. Semua kehidupan manusia akan sama. Datang-pergi, bertemu-berpisah.

Ada yang telah tiada, tapi dirinya masih mengisi hatimu. Tawa dan ucapannya masih sangat bisa kau dengar di benakmu. Itu kehilangan pertama: kehilangan fisik.

Ada juga orang yang masih bersamamu hingga kini. Mungkin malah begitu dekat, tetapi kau merasa dirinya tak ada lagi. Itu kehilangan kedua: kehilangan jiwa.

Kata temanku, inilah kehilangan yang paling menyakitkan. Sebab kau bukan kehilangan seseorang yang bisa dicari wujud-nya, tetapi kehilangan harapan dan kebahagiaan. Batas antara fakta dan fiktif, antara kenyataan dan harapan, menjadi samar. Rasa kehilangan itu menjadi sangat kompleks, terlalu sulit untuk dijelaskan. Rasanya seperti ada ruang kosong. Mungkin orang akan berkata, “Helooo, itu dia di sampingmu! Kenapa kau bilang dia tidak ada?!” Dan kau pun tak tahu harus menjelaskan apa.

Bagi siapa yang pernah merasakan kehilangan ini, ia akan disesaki kerinduan mendalam. Ia akan merasa tidak ada yang bisa mengerti rasa yang ia kecap. Ia menjadi pribadi yang melankolis. Imajinasi indah tentang kebersamaan dengan dia yang hilang akan begitu memerihkan. Kadang sebuah hubungan berjalan begitu kaku. Kau anak, dia ibu. Kau ibu, dia anak. Kau ayah, dia anak. Kau anak, dia ayah. Tidak ada yang lain kecuali nasehat dan taat. Kadang bayangan tentang hubungan anak dan orangtua hanya surga dan neraka, tidak lebih. Saat kau merasa tak bisa “berbicara” dengan ibu atau ayahmu, kau merasakan kehilangan semacam itu.

Ketika kau merasa tak bisa “berbicara” dengan anakmu, kau merasakan kehilangan itu. Saat kau merasa tak bisa “berbicara” dengan pasanganmu, kau merasakan kehilangan itu. Saat kau merasa tak bisa “berbicara” dengan saudaramu, kau merasakan kehilangan itu. Ketika kau berharap dia berbicara penuh cinta dan antusias kepadamu, namun hanya ungkapan datar atau bahkan kasar yang kau dengar. Dan marah adalah satu-satunya cara komunikasi. Di situlah rasa kehilangan dan kerinduanmu mendesakmu ke tepi jurang.

Berbahagialah dirimu yang tidak pernah merasakan kehilangan semacam ini. Tiada nikmat yang lebih indah daripada itu. Tapi jikau kau berada dalam kehilangan itu, selamilah lukamu. Rasakan sakitnya. Yakinlah suatu saat kau akan kembali menemukan dirinya yang hilang. Dan berbahagialah dirimu yang bisa kembali menemukannya.

Aku menemukan ibuku kembali siang tadi, setelah kuputuskan untuk “menemui”nya beberapa tahun yang lalu. Kuputuskan harus aku yang menemukan dirinya.

Kami mengobrol kecil lewat telepon. Suaranya begitu riang, tak pernah kudengar suaranya seriang itu sepanjang hidupku. Seingatku dia lebih sering menggerutu. Kami mengobrol tentang rencana di Tanah Haram. Setelah sepanjang masa kecil dan remaja aku pun hanya belajar untuk takut kepadanya, aku sudah mulai belajar memijiti tubuh rentanya. Besok, aku akan belajar memeluknya. Aku ingin menemui jiwanya sebelum kehilangan fisiknya, Tuhan. Aku ingin membawanya ke pintu rumah-Mu. Tolong perkenankan ….

Kadang seorang anak hanya ingin dipeluk dan diberi senyuman. Itu juga yang sejak kecil aku inginkan. Dan kuyakin semua anak menginginkan hal yang sama. Anak-anak hanya ingin dipeluk saat orangtuanya marah kepadanya. Setiap pasangan juga hanya ingin dipeluk jika merasa dibenci. Sayangnya, sentuhan adalah barang mahal bagi mereka.

Setiap ibu harus sering-sering menyentuh fisik dan hati anaknya. Para ayah, jangan takut jadi lelaki lembek dengan memeluk anakmu.

Kita memang tidak bisa memilih lahir dari rahim siapa, tidak dapat memilih ayah, apakah mereka dari seorang hebat atau pecundang. Tapi kita bisa memilih untuk menjadi orangtua yang baik untuk anak-anak kita.

Nah, lucunya, aku belajar ini dari anakku. Kata orang, sulungku itu bandel dan paling susah diberi tahu. Tapi jika anak itu kupeluk, tiba-tiba kami mengerti satu sama lain, meski tanpa kata. Ia lebih mudah diminta bersikap bila sering dipeluk. Bukankah ini cara komunikasi yang ajaib?[]

2 Comments

Tambah info dan komentarmu di sini, ya!