Menulis Cerita Itu Mudah dan Perlu

Menulis cerita itu susah? Menulis cerita itu mudah dan perlu! Benarkah? Akan saya buktikan.

Tempat belajar terbaik adalah ketika kita keluar dari tempat itu, kemudian menjadi orang yang baru dengan cara berpikir yang baru. Dan itu yang saya rasakan usai mengikuti workshop “Narasi” oleh Maggie Tiojakin beberapa waktu yang silam.

Maggie adalah seorang penulis dan jurnalis. Maggie pernah magang kerja di salah satu jurnal sastra-politik-seni ternama di Boston, yaitu The Atlantic. Maggie pernah belajar di Harvard University Extension School jurusan Liberal Arts; sambil magang antara lain di Candlewick Press. Sebagai seorang jurnalis, tulisannya telah dimuat di The Jakarta Post, Boston Globe, Asian News Network, dan Somerville News. Sejumlah cerita-cerita pendeknya juga telah diterbitkan di media lokal maupun internasional.

Sebagian orang (termasuk saya, tadinya, sebelum mengikuti workshop Maggie) menganggap sebuah kisah (dalam bentuk apa pun) tidak terlalu berarti. Cerita-cerita itu hanya sekadar pemanis saja, tidak lebih. Membaca dan menulis cerita tidak terlalu bermanfaat, hanya untuk selingan saja. Kebanyakan orang juga berpikir bahwa dirinya mungkin sama sekali tidak punya cerita yang menarik untuk dibagikan. Karena itu tidak banyak orang yang merasa bisa dan berminat membuat cerita.

Ini yang pertama harus diperbaiki: pola pikir tentang sebuah cerita.

Dari sinilah kita akan memulai untuk berpikir bahwa menulis cerita itu mudah dan perlu. Lalu cerita itu sebetulnya apa?

Menurut sastrawan, Reynold Price, “cerita merupakan kebutuhan sekunder setelah makanan dan kebutuhan primer sebelum cinta dan tempat tinggal bagi manusia.” Kenneth Burke, seorang kritikus, bilang, “Cerita adalah perangkat hidup manusia.” Sementara menurut BRUCE SPRINGSTEEN, seorang musisi, “Cerita adalah bagian utama dari tradisi bermasyarakat.”

Sebetulnya sejak kecil kita sudah dijejali dengan cerita ini-itu tentang saudara, teman, keluarga, dan juga tetangga. Tak jarang pula kita mendapatkan cerita dari lagu, film, tarian, media visual, dan tulisan. Hidup kita penuh sesak dengan cerita. Sebagian cerita kita ingat dan ceritakan ulang kepada orang lain: cerita-cerita yang menurut kita paling heboh, paling menyentuh, paling inspiratif, paling indah, dan banyak ‘paling’ lainnya. Kita juga mungkin ingat siapa penceritanya, caranya bercerita, bagaimana dia menuturkan jalan cerita hingga kita benar-benar tenggelam di dalam dunia ceritanya. Lalu kita tiba pada bagian di mana kita manggut-manggut setuju, membelalak terkejut, atau diam tersentuh.

CERITA adalah MEDIUM KOMUNIKASI. Kita bercerita untuk MENYAMPAIKAN PESAN. Dengan cerita kita dapat MELESTARIKAN BUDAYA, TRADISI, dan MEREKAM JEJAK SEJARAH.

Jadi, jelas membuat cerita bukanlah pekerjaan ecek-ecek yang bisa dianggap remeh. Tradisi bercerita ternyata dapat membangun peradaban sebuah bangsa. Sejak manusia bisa menulis dan menggambar, cerita selalu digunakan untuk berkomunikasi. Bila mengikuti pola seni bercerita di masa kuno (sejak karya fiksi yang dianggap tertua di dunia, The Epic of Gilgamesh) ada empat metode bercerita yang digunakan para pencerita untuk menyampaikan pesan:

  1. Perjalanan Pribadi,
  2. Biografi,
  3. Legenda,
  4. Inspirasional.

Keempat cara ini selalu menarik untuk menyajikan sebuah cerita. Kita bisa menggunakan salah satunya sebagai format dalam topik cerita yang akan kita buat. Maggie menjelaskan bahwa sebuah cerita yang baik harus memiliki nilai-nilai universal yang mampu menyeberang melintasi budaya, generasi, masa, geografi. Tema yang diangkat harus luas dan memberi arti lebih bagi kehidupan.

Cerita unik dan luar biasa bertebaran di sekeliling kita. Asal kita bisa mengolah ide menjadi produk cerita yang berkualitas, orang-orang akan selalu membaca cerita kita.

Cerita yang luar biasa selalu menyuguhkan pengalaman nyata bagi audiens/pembacanya. Dan untuk menghasilkan pengalaman nyata bagi pembaca, kita membutuhkan ilmu bercerita dan seni bercerita. Bukan salah satu, tapi dua-duanya.

Apa yang membuat pembaca mendapatkan pengalaman nyata ketika membaca cerita? Yaitu dengan menghadirkan imajinasi dari panca indera yang dimikilinya dengan cara mendeskripsikan pengalaman telinga saat mendengar, mata saat melihat, hidung saat mengidu, kulit saat mencerap, dan perasaan terhadap sesuatu atau peristiwa tertentu.

Setiap orang punya cerita. Setiap cerita yang mengangkat sisi manusiawi seseorang selalu menarik. Mengangkat cerita tentang anak manusia yang menyentuh sisi kemanusiaan tidak pernah usang kapan pun. 

Mulailah dari berlatih menuliskan apa yang kamu lihat, dengar, rasakan. Publikasikan di sosial media. Semudah itu. Jangan pusingkan teori-teori. Lakukan secara konsisten. Sambil berlatih, pelan-pelan mulailah membaca teori-teori menulis yang mudah. Kelak, keterampilan menulis akan terasah, insya Allah. Sudah banyak contoh penulis yang lahir dari kicauannya di media sosial. Berceritalah tentang orang lain di sekitarmu. Tulis bagian paling menarik dari dirinya.

Nah, bagaimana? Sudah mendapat pencerahan? Jika sudah mulai punya pola pikir yang luas tentang cerita, baru kita mulai ke teknis membuat cerita, ya. Ini baru bukti pertama. Masih ada tips menulis lain yang akan saya bagi. Buktikan kalau menulis cerita itu mudah dan perlu. Sampai jumpa di tips menulis berikutnya![]

5 Comments

Tambah info dan komentarmu di sini, ya!