9 Kunci Penting Menulis Cerita

sotry og my life

Saya mendapatkan 9 kunci penting menulis cerita ini dari Maggie Tiojakin saat menjadi peserta workshop “Narasi” di sebuah penerbit terbesar di Indonesia. Sebetulnya, apa itu cerita? Cerita adalah medium komunikasi. Dengan bercerita kita sedang berkomunikasi dengan orang lain.  Kita bercerita untuk menyampaikan pesan. Dengan cerita kita dapat melestarikan budaya, tradisi, dan merekam jejak sejarah. Menurut sastrawan, Reynold Price, “cerita merupakan kebutuhan sekunder setelah makanan dan kebutuhan primer sebelum cinta dan tempat tinggal bagi manusia.” Kenneth Burke, seorang kritikus, bilang, “Cerita adalah perangkat hidup manusia.” Sementara menurut Bruce Springteen, seorang musisi, “Cerita adalah bagian utama dari tradisi bermasyarakat.” Wah, ternyata cerita bukanlah sesuatu yang sepele, ya. Nah, sekarang apa sajakah kunci penting menulis cerita? Apa saja yang perlu diperhatikan saat kita menulis cerita? Simak, ya!

1. Baca, baca, baca, baca, baca, baca. Dan BACA!

Jika kita ingin menulis, belajarlah membaca sebuah tulisan. Saat seorang penulis membaca, dia bukan sekadar membaca, tetapi memerhatikan penggunaan kalimat, penyusunan paragraf, ritme kata, fungsi setting, penjelasan karakter, hubungan antara karakter. Lalu perhatikan alur cerita (plot) dan kaji efeknya terhadap keseluruhan tulisan. Baca mulai dari buku yang kita suka, setelah itu mulailah membaca tema yang tidak terlalu menarik buat kita. Pertama-tama mungkin kita akan mengeryitkan dahi, tapi lanjutkan. Pasti ada sesuatu yang menarik dan bermanfaat di sana. Melebarkan tema bacaan akan melebarkan sudut pandang kita.

2. Menulis SETIAP HARI, sesering mungkin

Walau hanya 10 menit sehari, usahakan untuk menulis setiap hari. Menulis apa saja, bahkan status sosmed sekali pun. Dengan berlatih menulis, kita melatih otak untuk berpikir, sama seperti membaca. Ada banyak teknik latihan yang bisa dilakukan, misalnya menggunakan kalimat usulan (prompter) yang telah ditentukan sebelumnya, mengikuti gaya penulis lain (emulasi), atau dengan menulis buku harian.

3. KISS: Keep It Simple, Stupid

Prinsip ini dikenalkan oleh Angkatan Laut Amerika di tahun 1960. Intinya adalah bahwa hampir semua sistem bisa bekerja dengan baik jika dibuat dengan sederhana, tidak rumit. Sederhanakan semua kalimat yang bisa disederhanakan. Semakin rumit susunan kalimat dan dinamika sebuah cerita, semakin berat kerja pembaca, maka cerita semakin kurang kredibel. Jika sebuah cerita kurang kredibilitasnya, ia akan kehilangan kekuatan, kualitas, dan kapabilitas untuk menjadi sebuah bacaan. Perhatikan contoh berikut, ya.

Setelah mendengar ucapan Bima bahwa mereka tak lagi ada kecocokan dan karenanya lebih baik berpisah, Desi merasakan hatinya hancur berkeping-keping. Dinding kamarnya seakan luluh ke tanah, melumatkan segalanya. Bagai luka yang memborok, rasa sakit hati yang ditinggalkan Bima membuat sekujur tubuhnya terinfeksi oleh kepedihan yang luar biasa. Desi tak terima. Ia ingin berteriak pada dunia. Tidak adil! Bukankah dia sudah memberikan segalanya kepada laki-laki itu? Apakah segalanya belum cukup? Air matanya membanjiri seisi ruangan. Tubuhnya lunglai bak tanaman layu. Habis sudah.

Bandingkan dengan ini. Lebih sederhana, tapi lebih kena, kan?

Desi meletakkan gagang telepon. Telinganya panas setelah satu jam lebih mencoba beralasan dengan Bima untuk mempertahankan hubungan mereka. Tak ada yang perlu dipertahankan, kata Bima. Desi menghempaskan tubuh ke atas ranjang, menatap langit-langit. Matanya basah. Perutnya kram. Telapak tangannya berkeringat. Tiga tahun, delapan bulan. Desi memejamkan mata. Lelah.

4. Pahami GENRE tulisan

Kenali genre tulisan yang ingin kamu pertajam. Genre adalah kategorisasi. Coba perhatikan dan belajar mengklasifikasikan setiap tulisan yang kamu baca. Sastra, roman, fantasi, horor, atau apa? Masing-masing genre punya kekuatan dan nilai jual tersendiri. Tapi jangan pusing memikirkan apakah tulisanmu bernilai sastra atau terkesan picisan.  Kenali saja tulisanmu. Perdalam tekniknya. Pelajari. Konsistensi. Dan mulailah menulis terus!

5. Jauhi KLISE dan GENERALISASI

Cari cara baru dan unik untuk menggambarkan sesuatu. Hindari klise, kata sifat dan generalisasi/asumsi karena kedua hal tersebut akan membuat susunan kalimat kehilangan bobotnya. Setiap kalimat harus menjalankan fungsinya. Rona meminta maaf kepada ibunya karena ia kini sadar bahwa surga ada di telapak kaki ibu. Dia tidak mau jadi anak durhaka yang tak tahu asal-usul, seperti kacang yang lupa kulitnya. Rona mengajak ibunya pergi makan siang di sebuah restoran. Sambil menunggu pesanan datang, Rona menghadap ke arah wanita paruh baya itu dengan kepala menunduk. “Aku minta maaf, Bu,” katanya.

6. Dialog adalah AKSI

Penyusunan, irama dan fungsi dialog harus memajukan alur cerita serta menopang perkembangan karakter. Dialog harus bisa berdiri sendiri tanpa penjelasan tambahan dalam bagian narasi. Saat membuat dialog, perhatikan ini:

  • Percakapan sehari-hari itu 80% membosankan.
  • Pelajari cara kita menyampaikan sesuatu kepada orang lain.
  • Latih dirimu untuk mendengar.
  • Tidak perlu mem-verbalisasikan efek   suara seperti: “Dor!” “Klik.” “Ngiiik!” “Srooot!” – kecuali sangat perlu.
  • Tidak perlu mem-verbalisasikan ekspresi non-kata, seperti: “Heeeehh!” “Pfffftt!” “Weeeeek!” “Yeeeeee!” – kecuali sangat perlu.

Ini contoh dialog pasif:

  • A: Hai. B: Hai juga. A: Lagi apa? B: Biasa deh. A: Bosen nih. B: Main aja ke mall. A: Terus ngapain di sana? B: Biasanya ngapain? A: Nonton bioskop. B: Ya nonton aja. Mumpung siang, sepi.

Sekarang, coba bandingkan dengan contoh dialog aktif ini: A: Sibuk? B: Nggak terlalu. A: Cek email, deh. B: Sekarang? A: Kamu inget aplikasi yang aku kirim bulan lalu? B: Tunggu, bentar. Damn. Selamat ya! A: Nggak nyangka banget! Siapa kira? B: Aku udah bilang, kamu pasti dapet. A: Besok bisa temenin aku ke kedutaan? B: Pake nanya lagi. Bisalah! Berbeda ya, rasanya? Nah, berlatihlah membuat dialog yang “berbunyi”.

7. Revisi, revisi, revisi. Dan REVISI

Menulis dan revisi adalah dua kegiatan yang saling berkaitan, tidak bisa sendiri-sendiri. Sama seperti makan dan minum. Duduk dan bangkit berdiri. Basah dan kering… well, you get the picture.

8. There is no such thing as A GOLDEN RULE

Go crazy on paper. Dalam menulis fiksi tidak ada peraturan yang tidak bisa dilanggar. Semuanya sah, selama tulisan itu berhasil mencapai tujuannya: ber-ce-ri-ta. Mau pakai teknik lama? Silakan. Mau ciptakan teknik baru? Lebih bagus!

9. Bertanggung jawab 

Karya kamu mencerminkan diri kamu. Maka sebelum mengirimkan karya terbaikmu ke penerbit atau media, ada baiknya kamu perhatikan lagi isi dan penampilan fisik karyamu. Apakah isinya sudah sesuai? Apakah kelengkapan naskahnya yang diperlukan oleh media yang dituju sudah ada semua?

Nah, selamat mulai menulis cerita![]

(Disarikan dari materi workshop “Narasi” oleh Magie Tiojakin)

4 Comments

  1. Baru nemu tulisan inspiratif model gini. Asyik dan ngalir. Berasa dituntun oleh guru yang lembut. Jadi semangat pengin bagi cerita tentang “Karyawan tak tau diri VS Bos baik hati”. Makasih banyak ya bu guru kehidupan…

Tambah info dan komentarmu di sini, ya!